SEKOLAH PINTAR = SUKSES ??

Tahun 1999, saya lulus sma. Tidak dengan nilai yang begitu bagus, namun saya beruntung bisa lulus. Ketika dalam ujian nasional. ada seorang teman saya yang , tidak begitu pintar, kebetulan setiap ujian selalu duduk di belakang saya, dan setiap uijian selalu mencontek saya. pada awalnya saya risih. saya selalu mengatakan padanya, belajarlah sendiri, jangan cuma mencontek saya. Dalam hati saya, enak sekali dia , saya yang belajar sampai malam larut. eh dia menconteknya dalam kelas. itu pada awalnya.
Hingga saya menemukan suatu hikmah, ketika saya mengalami kejadian seperti dirinya. Saya lemah dalam olahraga, apalagi pelajaran teori olah raga. karena saya tidak menyukai olahraga apapun saat itu. Saya orang yang yang takut jika mendapat nilai buruk, karena saya pikir jika salah satu nilai pelajaran buruk akan berpengaruh dalam kelulusan nanti. Ketika ujian olahraga, 100% saya mencontek teman saya yang selalu duduk di belakang saya. karena saya tahu dia sangat pandai urusan olahraga. Yang membuat saya kaget, adalah cara dia memberi contekan ke saya. Ketika dia selesai mengerjakan soal-soalnya, dia tanya pada saya, apakah saya sudah selesai, saya jawab belum. saya baru bisa ngerjain dua soal dari 10 soal. Lalu dia minta kertas jawaban saya. dan dia mengulurkan kertas jawabannya ke saya. secepat kilat kami bertukar kertas jawaban. Kertas jawaban dia, belum di beri nama. Lalu dia berkata, kamu isi saja dengan namamu. terus kumpulkan. Semenjak saat itu kami berdua selalu saling melengkapi dalam hal contek mencontek. Dan saya tidak pernah menganggap mencontek pada saat ujian itu salah. Seperti yang saya ceritakan di atas, kami lulus dengan nilai pas-pasan. Tapi lulus.
Lalu terbesit pikiran tentang sistem sekolah saat ini. Dimana kita selalu melihat guru lebih pintar dari murid-muridnya. Tapi sebenarnya kalo di pikir ulang, guru matematika misalnya, dia mengajarakan hal yang sama setiap tahun. Cara yang sama dalam penyelesaian setiap soal-soal yang diberikan. meski kadang ada cara baru yang tercipta, tapi biasanya hal itu dari murid yang sangat cerdas. Kesimpulan saya para guru hanya hafal apa yang mereka ajarkan, dan mungkin saya lebih pintar di bidang lain. Namun yang ingin saya tekankan disini. pintar itu relatif, karena seseorang tidak bisa pintar dalam semua pelajaran. Suatu ketika saya disuruh mengerjakan soal di papan tulis. soal kimia. dan saya blank. benar benar blank. saya sempat di cemooh oleh guru saya, karena dituduh malas belajar, ngerjakan PR selalu tidak selesai semua, sering bercanda, dan lain-lain. Yang membuat saya sedikit malu karena semua itu di katakan oleh guru kimia di hadapan teman-teman semua. Lalu seorang yang paling cerdas di kelas kami di suruh menyelesaikan. dan selesai sempurna dalam waktu singkat. Bagi saya Masing-masing anak tidak sama tingkat kecerdasannya. Mencemooh murid di depan kelas tidak akan membuat murid yang lain menjadi ter motivasi. Yang ada hanya ketakutan. Ketakutan akan dicemooh, Malu, dan tentu saja kebencian kepada mata pelajaran tersebut.
Kita tahu beasiswa hanya untuk yang pintar, Lalu bagaimana dengan yang bodoh. Apakah mereka tidak berhak mendapat beasiswa. Inilah yang ada dalam pikiran saya, ketika pengelompokan murid terjadi, murid yang pintar akan berkelompok dengan murid-murid pintar lainnya. Sedangkan yang bodoh akan berkelompok juga dengan bodoh. Yang pintar ke kampus, yang bodoh jaga kakus. istilah kasarnya sepeti itu.
Beberapa teman ‘cerdas’ saya di SMU dulu. Ada yang jadi guru, ada yang jadi supervisor di pabrik, ada yang selam 10 tahun tetap jadi operator mesin di sebuah pabrik. Lalu ada 1 rekan saya yang jadi polisi pangkatnya saat kami bertemu adalah kasatreskrim. Dialah yang sering nyontek saya waktu ujian.
Nah kita lihat, pada saat kami masih sma, kami tidak tahu akan jadi apa nantinya. Namun ada dua teman saya yang saya banggakan. karena dulu saya ingat kami sangat nakal. tapi kini yang satu jadi Kasatreskrim, yang satu punya perusahaan packaging. Ada satu kesamaan dari mereka, ketika saya tanya kok bisa jadi seperti ini. Mereka berdua menjawab, nekat. Yang polisi, nekat ngajak berkelahi seorang reserse. Yang pada akhirnya reserse itu jadi bapak angkatnya. yang satu nekat ngajuin pinjaman ke bank. Banyak cerita dari mereka, pengalaman-pengalaman mereka sangat menginspirasi.
Sedangkan teman-teman saya yang ‘cerdas’ tadi. cenderung datar cerita kehidupannya, lulus sma, masuk kuliah, ada yang dapat beasiswa, ada yang pakai uang orang tua sendiri. di kuliah juga kegiatannya hanya datar- datar saja. belajar, praktikum, skripsi, sidang, lulus dangan IPK sangat memuaskan. Namun ketika keluar kampus, mereka baru sadar saingan mereka jutaan, bahkan puluhan juta lulusan S1 yang sama dengan mereka. Ngelamar sana sini. gak dapat -dapat kerjaan yang diinginkan. akhirnya terima kerjaan apapun. setelah kerjapun, mereka masih main aman, dengan bekerja seperti apa yang di perintahkan. persis seperti ketika sekolah, masuk pagi. pulang, belajar.besoknya masuk pagi lagi. Ulangan dapat nilai bagus, sudah.
APakah itu nasib, tidak saya bilang. Mereka sudah dari sejak SD ditakut-takuti oleh sistem sekolah itu sendiri. Jika dapat nilai jelek di matematika. Gak naek kelas. Tidak mengerjakan PR di strap di depan kelas. mereka jadi takut mengambil keputusan ekstrim yang mungkin merubah masa depan mereka. Sedangkan ada beberapa yang sadar, jika, sedikit orang yang mengambil jalan yang berkelok kelok, mungkin jalannya sepi .tidak sepadat jalan yang lurus yang selalu di ambil oleh orang-orang yang tidak mau mengambil resiko.
Tapi ada beberapa orang yang sadar di tengah jalan dan mengambil keputusan drastis dalam hidupnya dan nasib mereka berubah. tentu saja peubahannya tidak selalu drastis, namun semua melewati proses. dan hanya yang tidak pernah menyerah yang berhasil.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s